"Duduk Sendiri di Sudut Perpustakaan"
"Duduk Sendiri di Sudut Perpustakaan"
Ada momen-momen dalam kehidupan kuliah yang tidak terekam kamera, tidak masuk dalam unggahan Instagram, dan tidak dibicarakan dalam percakapan ramai—seperti saat duduk sendiri di sudut perpustakaan.
Hari itu hujan turun deras. Saya tidak sedang dalam mood untuk pulang, tidak juga untuk berkumpul dengan teman. Rasanya hari itu saya hanya ingin diam. Jadi aku melangkah pelan ke perpustakaan kampus, melewati lorong buku-buku tebal yang baunya entah kenapa tenang. Lalu, saya memilih meja kosong di pojok ruangan yang jarang dikunjungi siswa. Tempat yang sunyi tapi tidak sepi.
Di sana saya membuka laptop, tapi tidak langsung mengetik. Hanya menatap layar, membiarkan pikiran berkelana. Mungkin karena tugas-tugas mulai menumpuk, atau karena tekanan untuk terus “produktif” mulai membuat kepala terasa berat. Tapi saat duduk sendirian di sana, saya merasa anehnya... baik-baik saja. Tidak sempurna, tapi cukup. Tidak bahagia, tapi damai.
Saya sempat memperhatikan siswa lain yang duduk dengan ekspresi serupa. Mungkin mereka juga sedang melarikan diri. Atau mungkin mereka juga sedang mencari versi dirinya yang sempat tertinggal di antara kesibukan jadwal dan tuntutan akademik.
Dari hari itu saya belajar, bahwa dalam kesendirian pun bisa ada pemulihan. Bahwa kita tidak selalu harus "bersemangat", "aktif", atau "berprestasi". Kadang-kadang, cukup dengan bernapas perlahan dan duduk tenang di sudut ruangan, kita sedang menyelamatkan diri dari rasa lelah yang tidak terlihat.
Perpustakaan bukan hanya tempat belajar, tapi kadang jadi tempat pulang—bagi pikiran yang sedang butuh istirahat.
.jpg)
Comments
Post a Comment