"Kopi Pahit dan Obrolan Tengah Malam"


  "Kopi Pahit dan Obrolan Tengah Malam"

Salah satu hal yang paling saya syukuri selama menjadi siswa adalah… diskusi tengah malam. Bukan soal isinya yang selalu serius, tapi momen kebersamaannya yang hangat. Biasanya terjadi di depan kos, kadang di warung kopi 24 jam, atau di ruang tamu asrama yang lampunya mulai redup.


Ada satu malam yang tidak akan saya lupa. Saat itu kami baru saja menyelesaikan presentasi besar. Rasanya seperti beban lepas dari pundak. Tiba-tiba salah satu teman nyeletuk, “Ngopi yuk?” Jam menunjukkan pukul 11 ​​malam. Tapi entah kenapa, semuanya mengangguk.


Kami duduk melingkar di atas tikar, dengan gelas plastik berisi kopi sachet seadanya. Tak ada cemilan mewah, hanya roti sisa dari acara tadi siang. Tapi percakapan kami malam itu... luar biasa.


Kami berbicara tentang masa depan—tentang cita-cita yang terkadang terasa terlalu jauh. Tentang keluarga, tentang rasa takut gagal, bahkan soal cinta yang belum berani diungkapkan. Semua tumpah begitu saja, tanpa takut dihakimi. Karena di tengah malam, semua terasa lebih jujur.


Saya ingat salah satu teman berkata, “Aku takut lulus. Bukan karena tidak siap kerja, tapi karena takut kehilangan kita.” Saat itu kami semua setuju. Dan untuk pertama kalinya, saya sadar... masa kuliah bukan hanya soal IPK atau skripsi, tapi tentang kebersamaan yang diam-diam menyembuhkan.


Kopi kami memang pahit, tapi perasaan malam itu manis. Tidak semua kenangan perlu difoto, karena beberapa cukup disimpan di hati—dan dikenang dalam keheningan.

Comments

Popular posts from this blog

Cara Mengatasi Pengangguran bagi Anak Muda Zaman Sekarang.

Kesenjangan Sosial

Insomnia Karena Beban